Sunday, November 2, 2025

Mengapa Peserta Didik Sekarang Lemah dalam Kemampuan Dasar Matematika?

Refleksi Seorang Guru di Era Digital

Sebagai guru, saya sering merenung melihat kenyataan yang terjadi di kelas-kelas kita hari ini. Di tengah derasnya arus teknologi dan informasi, ada hal mendasar yang perlahan mulai memudar: kemampuan dasar matematika peserta didik.

Bukan rahasia lagi, banyak siswa saat ini yang masih kesulitan dalam hal-hal sederhana seperti perkalian, pengurangan bilangan negatif, atau penjumlahan pecahan. Bahkan, ada yang perlu waktu lama untuk menjawab soal 7 × 8, atau ragu menentukan hasil dari -3 + 5.
Padahal, keterampilan dasar inilah yang seharusnya menjadi fondasi berpikir logis dalam memahami konsep matematika yang lebih kompleks.

Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan bersama:

  1. Ketergantungan pada teknologi.

    Kalkulator, aplikasi, dan mesin pencari sering kali menjadi jalan pintas. Peserta didik terbiasa mencari jawaban instan tanpa melalui proses berpikir. Akibatnya, kemampuan berhitung manual melemah.

  2. Belajar tanpa makna.
    Banyak siswa menghafal rumus tanpa benar-benar memahami konsep di baliknya. Karena itu, mereka cepat lupa ketika konteks soal berubah sedikit saja.

  3. Menurunnya motivasi dan kreativitas belajar.
    Matematika sering dianggap sulit dan menakutkan. Padahal, jika diajarkan dengan pendekatan yang tepat, matematika bisa menjadi sarana berpikir kreatif dan menyenangkan.

  4. Kurangnya latihan dan pembiasaan.
    Kemampuan dasar tidak muncul begitu saja, melainkan melalui latihan rutin. Sayangnya, di era serba cepat ini, kesabaran dalam berlatih mulai jarang ditemukan.

Kelemahan pada kemampuan dasar bukan sekadar masalah angka, tetapi juga mencerminkan lemahnya disiplin berpikir dan daya tahan belajar. Tanpa dasar yang kuat, peserta didik akan kesulitan memahami logika aljabar, geometri, bahkan pemecahan masalah kontekstual.

Sebagai pendidik, tugas kita bukan hanya mengajar rumus, tetapi menumbuhkan cara berpikir matematis. Kita perlu menciptakan pembelajaran yang bermakna—yang menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata, melibatkan rasa ingin tahu, dan memberi ruang bagi siswa untuk mencoba, salah, lalu memperbaiki.

Matematika sejatinya bukan sekadar angka dan simbol. Ia adalah latihan berpikir, pembiasaan logika, dan pembentukan karakter. Maka, mari kita kembalikan semangat belajar matematika kepada hakikatnya: belajar untuk memahami, bukan sekadar mencari hasil.

Wednesday, October 22, 2025

Cerita Perjuangan

Di balik dinding kelas yang sunyi, di balik papan tulis yang mulai pudar catnya, ada cerita-cerita perjuangan yang jarang didengar. Cerita tentang orang-orang yang mencintai dunia pendidikan… tapi tidak selalu dicintai kembali oleh nasib.

Mereka adalah para lulusan pendidikan, para sarjana, para calon guru… yang pernah bermimpi menjadi pelita bagi anak bangsa. Dulu mereka duduk di bangku kuliah dengan mata berbinar, percaya bahwa ketika mereka lulus, ilmu dan pengabdian akan menemukan tempatnya. Bahwa mereka akan berdiri gagah di depan kelas, mengajarkan mimpi pada anak-anak negeri.

Tapi kehidupan seringkali tidak semanis itu.

Begitu ijazah diterima, perjalanan panjang dimulai. Lamaran kerja diketik dengan sepenuh harapan, dikirim ke puluhan sekolahan lembaga. CV dicetak rapi, map diklip erat, disertai do'a di setiap langkah menuju kantor-kantor yang mungkin bahkan tak akan membaca surat itu. Hari demi hari berlalu, email balasan tak kunjung datang, panggilan wawancara hanya sesekali terdengar.

Banyak dari mereka akhirnya harus menelan kenyataan pahit: gelar sarjana tak selalu menjamin kehidupan yang layak. Ada yang menjadi guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah sebulan, jauh dari cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Ada yang setiap pagi mengajar dengan seragam sederhana, menahan lapar demi tidak meninggalkan kelas. Ada pula yang harus berjalan jauh atau naik motor tua ke sekolah pelosok, meski uang bensin tak sebanding dengan gaji yang diterima.

Yang lebih menyakitkan lagi, bukan hanya soal gaji yang kecil. Tapi bagaimana perjuangan mereka sering tidak dipandang. Bagaimana dedikasi mereka seolah tak berarti di tengah sistem yang keras dan tak adil. Mereka mencetak generasi masa depan, tapi mereka sendiri seringkali terpinggirkan dari masa depan yang mereka impikan.

Malam-malam mereka diisi dengan air mata yang jatuh tanpa suara. Doa-doa lirih terucap dalam keheningan: “Kapan aku mendapatkan kesempatan yang layak?” Tapi meski lelah, mereka tidak berhenti berharap. Karena di hati mereka, cinta pada dunia pendidikan terlalu dalam untuk padam begitu saja.

Mereka tetap mengajar, meski dengan papan tulis reyot dan kursi yang hampir rubuh. Mereka tetap tersenyum pada anak-anak, meski dalam hati bergulat dengan beratnya hidup. Mereka tetap memberi semangat, meski kadang mereka sendiri kehilangan semangat.

Inilah paradoks yang menyayat: orang-orang yang paling berjasa membangun masa depan sering kali adalah orang-orang yang hidupnya paling sederhana, paling terpinggirkan. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada jiwa yang luar biasa kuat.

Karena menjadi pendidik bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan jiwa. Ia adalah pengorbanan sunyi. Ia adalah cinta yang tulus, bahkan ketika dunia tidak memberi imbalan.

Dan suatu hari nanti, semoga dunia belajar menghargai mereka sebagaimana mereka telah mencurahkan segalanya untuk mencerdaskan bangsa. Bukan hanya dengan ucapan “pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi dengan kehidupan yang benar-benar layak.

Sampai saat itu tiba, mereka tetap berdiri—meski dalam diam, meski dalam luka—menjadi lentera kecil di tengah gelapnya ketidakpastian. Karena mereka percaya, pelita kecil pun bisa menerangi dunia.

Mengapa Peserta Didik Sekarang Lemah dalam Kemampuan Dasar Matematika?

Refleksi Seorang Guru di Era Digital Sebagai guru, saya sering merenung melihat kenyataan yang terjadi di kelas-kelas kita hari ini. Di teng...