Refleksi Seorang Guru di Era Digital
Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan bersama:
-
Ketergantungan pada teknologi.
Kalkulator, aplikasi, dan mesin pencari sering kali menjadi jalan pintas. Peserta didik terbiasa mencari jawaban instan tanpa melalui proses berpikir. Akibatnya, kemampuan berhitung manual melemah. -
Belajar tanpa makna.Banyak siswa menghafal rumus tanpa benar-benar memahami konsep di baliknya. Karena itu, mereka cepat lupa ketika konteks soal berubah sedikit saja.
-
Menurunnya motivasi dan kreativitas belajar.Matematika sering dianggap sulit dan menakutkan. Padahal, jika diajarkan dengan pendekatan yang tepat, matematika bisa menjadi sarana berpikir kreatif dan menyenangkan.
-
Kurangnya latihan dan pembiasaan.Kemampuan dasar tidak muncul begitu saja, melainkan melalui latihan rutin. Sayangnya, di era serba cepat ini, kesabaran dalam berlatih mulai jarang ditemukan.
Kelemahan pada kemampuan dasar bukan sekadar masalah angka, tetapi juga mencerminkan lemahnya disiplin berpikir dan daya tahan belajar. Tanpa dasar yang kuat, peserta didik akan kesulitan memahami logika aljabar, geometri, bahkan pemecahan masalah kontekstual.
Sebagai pendidik, tugas kita bukan hanya mengajar rumus, tetapi menumbuhkan cara berpikir matematis. Kita perlu menciptakan pembelajaran yang bermakna—yang menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata, melibatkan rasa ingin tahu, dan memberi ruang bagi siswa untuk mencoba, salah, lalu memperbaiki.
Matematika sejatinya bukan sekadar angka dan simbol. Ia adalah latihan berpikir, pembiasaan logika, dan pembentukan karakter. Maka, mari kita kembalikan semangat belajar matematika kepada hakikatnya: belajar untuk memahami, bukan sekadar mencari hasil.